VISTA #11: COVID-19 and Cancelled Flights

Hey you guys!

Sooo I am currently at home in Indonesia since mid February. My plan was to go back to Germany by 20 March but then everything turns into havoc (is it a correct situation to use the word in a sentence?).

My initial flight got cancelled 2 days before departure since my flight had a short layover (30 minutes) in Kuala Lumpur, Malaysia and the government announced that they wanted to do a national lockdown. Then I rescheduled my flight with my friend to the next week, 27 March. We still used the same airline though by this time. So the next flight was supposed to fly from Jakarta to Singapore (transit for around 3-4 hours) then to Amsterdam (transit for 4-5 hours) and to Hamburg. But then couple of days before my departure, I saw that my flight from Amsterdam to Hamburg had been cancelled without any notification to me either via the airline apps nor email. Basically, no notification really.

I tried to find a solution in this problem, so I contacted my friend who currently lives in Leiden and told her that my flight was cancelled and I was planning to take train from Amsterdam to Hamburg. I saw that the train was still operating and I asked her if I could stay at her place if there is any problem suddenly comes up and I have to stay in the Netherlands. Alright, problem solved right? Right? Ohhohoho of course not.

Then 2 days before my departure, my friend told me that Singapore forbid any short term visitor including transit. Great. Now my flight from Jakarta to Singapore has been cancelled. But weirdly enough, my flight from Singapore to Amsterdam was not cancelled. Umm, excuse me? How can I get to Singapore again? Swim from Jakarta to Singapore? Wut? My flight from Jakarta to Hamburg was with the same airline and I bought the ticket directly from them and I am not sure why they didnt cancel my flight from Singapore to Amsterdam as well. Because of that I could not really do anything, I could not reschedule my ticket :/ sad. I tried to contact them but it is sooooo hard. Nothing gets through basically. Oh well, I can kind of understand but come on…. And now the refund is not in the form of cash but travel voucher, correct me if I am wrong but as far as I know, you could not do that and the passengers are entitled to have their money back.

After couple of days being confused on what to do and when should I go back etc, I finally decided to refund my ticket. I guess it’s better than to get nothing in return? Besides, I dont know how long the ban will last so rescheduling flight again and again is pointless in my opinion

I am now planning to go back to Germany by finding a direct flight from Jakarta to Amsterdam. Hopefully i can find one. Again guys I am not trying to speak ill of the airline or anyone really, I just vent my frustration basically.

I know this is a difficult time for all of us, I am sorry for spreading such negativity but I just need to let it all out guys, I really just wanna go back home as I still have my classes and yes of course I understand there are many with problem similar or even worse to me. Stay strong, stay safe, stay healthy and please do what the government told you to do. Stay at home, so they could do their job and lets hope and pray (if you guys believe in God) that this too shall pass soon.

Cheers

Kemmy

Kuliah di Jerman: Curhatan kuliah setelah satu semester

Hey you guys!

Gue ganti judul yang tadinya “Kuliah di luar negeri” jadi “Kuliah di Jerman.” Kenapa? Biar lebih spesifik dan gak misleading aja gitu. Gak ada yang nanya sih Kem. Yaudah deh. (Apa sih ngomong sendiri)

Gue suka ditanya sama orang-orang, mau itu keluarga, temen atau beberapa orang yang kontak gue via DM instagram (iyes, feel free to contact me kalau kalian mau nanya-nanya. Gue akan jawab sebisa mungkin :3):

“Kuliah di Jerman gimana sih? Susah ga?”

Yaaaaa, gitu deh. Ga ngejawab emang.

Disclaimer dulu yaaa, gue cerita based on pengalaman gue sendiri jadi mungkin bisa beda-beda untuk tiap orang. Dan gue gatau tentang peliknya S1 di Jerman jadi gue ga akan ngomongin ini yes.

Sebetulnya untuk jawab susah atau gak itu agak susah sih buat gue karena menurut gue itu semua tergantung sama yang jalanin. Misalnya nih ya, menurut gue, gue masih bisa ngikutin pelajaran di kelas yah so far so good lah. Gue masih bisa membagi waktu buat main sama temen, baca buku (yang bukan pelajaran), olahraga, bolos kelas buat main poker pake gummy bear dan lain lain. Bahkan masih ada waktu buat ngegalau atau bingung mau ngapain (lebih tepatnya jadi galau ga jelas karena ga ada kerjaan). Kelas yang gue ambil juga lebih banyak dari rekomendasi dari dosennya (ambitchous aku tuh). Emang gue ambil yang menurut gue menarik dan emang pengen gue pelajarin kebetulan, eh taunya kebanyakan wkwkw. Yah alhamdulillah ga keteteran sih untuk semester 1 ini semoga lanjutannya juga ya hahaha.

Tapi ada juga yang bilang kuliah disini padet banget dan belajar bener-bener harus dari jauh-jauh hari, tugas banyak, pelajaran susah dan lain-lain. To be honest, my learning style is still the same, meratiin aja dosennya ngomong apa. Bukan berarti gue bilang kalo gue sombong ga belajar ya, emang tiap orang punya cara belajar beda-beda. Gue bukan tipe yang rajin review, tapi gue akan skimming notes gue sehari sebelum kelasnya. Dan kalau emang ada bahan bacaan yang harus dibaca, ya gue baca sehari sebelumnya biar bisa ikut diskusi.

Jadi jurusan lo santai banget apa gimana Kem?

Again, tiap orang beda-beda, tiap jurusan juga beda beda. Bisa jadi kalo gue ambil kuliah di jurusan lain gue ga akan ngerti apa yang mereka omongin. Sama halnya buat orang lain, kemungkinan bisa 2, antara mereka merasa apa yang gue pelajarin ini gampang dan santai banget, atau mereka keteteran.

By the way, disini itu bobot nilai untuk ujian itu 100% (seenggaknya untuk fakultas gue begitu ya). Emejing emang. Waktu awal gue liat liat silabus terus liat bobot ujian 100% rasanya aku mau mati saja~ ga ada dongkrak nilai pake tugas kayak pas gue S1 ahahahha matek. modar. isdet. die.

Sebelum gue curhatin ujian, gue mau curhatin background gue dan kuliah yang gue ambil. Jadi, gue sekarang kuliah manajemen lingkungan (in general bukan dalam kontek tempat kerja ya) tapi gue ga ada background lingkungan yang general. Background pendidikan dan pekerjaan gue itu K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja) atau kalo di kantor kantor namanya HSE (Health Safety Environment). Background dan alasan gue ambil kuliah di jurusan ini bisa kalian baca di post lama gue ya.

Ujian disini agak beda sama di Indonesia. Bukan agak sih, emang beda banget. Jadi ada 3 periode ujian, kalian bisa pilih mau ujian di periode mana, dan kalau kalian gagal bisa ngulang atau remedial di periode ujian selanjutnya gitu. Kalian bisa remedial sampe 3 kali. Nah kalo kalian masih gagal juga di matkul yang sama setelah 3 kali coba, kalian dikasih kesempatan terakhir atau disini disebut “Joker” dan kalian cuma bisa pake kesempatan itu satu kali selama kuliah. Waw aku dikasih kesempatan lebih. Banyak kebebasan yang dikasih disini sampe bingung akutuuuu

Kebetulan matkul yang gue ambil ini ujiannya macem-macem. Ada yang presentasi individu, presentasi kelompok, ujian tulis, ujian oral, report, scientific poster (tugas kelompok). Dari semua paling dag dig dug itu menurut gue adalah ujian oral. Ya bok berasa sidang weeey. Jadi, gue ambil kuliah tentang “Environmental Planning and Environmental Economics”, waw keliatannya menarique, aku ambil ah. Itu apaan? Mana gue tau, gue kan ga ada background lingkungan wokwokwok tapi dia menarique. I’m drawn by that “economic” word. WQWQ dasar aku. Gue adalah orang yang gampang ter-distract alhasil suka daydreaming ga jelas atau doodling sampah pas kelas. Katanya tadi merhatiin Kem, kenapa sekarang malah ga jelas gini. Ah kamu.

Nah ujiannya itu oral exam, jadi gue bakalan duduk bareng 2 professor (iya 2 biji), yang satu yang ngajar planning yang satu yang ngajar economic. Terus nanti masing-masing dosen akan ngasih gue 1 pertanyaan terus gue dikasih waktu buat persiapan untuk merangkai jawaban. Abis ngejawab, nanti bakal ada pertanyaan sambungan dari jawaban kalian gitu aja terus sampe waktunya abis hahhaha. Terus nanti kita disuruh keluar soalnya mereka mau diskusi gimana menurut mereka tadi jawaban gue dan nentuin nilainya. Abis itu nanti kita dipanggil lagi ke dalem buat ngomongin kesan pesan (?) pas ujian abis itu dikasih tau nilainya. Nah jadi gitu kalo ujian oral, cem sidang.

Kemarin pas gue ujian oral, untuk pertanyaan planning gue dapet peta terus suruh jelasin kalo gue mau bikin nature protection area itu apa aja yang harus gue perhatiin, apa yang harus gue lakukan, apa juga yang harus gue lakukan kalo ada masalah dan sebagainya. WAW. PETA. WAW. Di saat itu juga aku merasa isdet lah aku. die. bhay. Gagal aja udah wk. Lalu meringis dalem hati. Semacam aku merasa aku mati, tapi di satu sisi gue tau dapet peta juga cukup memudahkan gue pas ngejelasin jawaban gue. Tapi ya, aing kan ngarep dapet pertanyaan lain. Untung masih dapet nilai bagus walau aku mau lebih karena aku ambitchous. Karena disini nilainya kebalik kayak di Indonesia (1 paling bagus), pas dikasih tau nilainya gue malah ceming karena ngira aing ga lulus wqwqwq. Ah dasar aku.

Yaaah kurang lebih gitu aja sih curhatan aing setelah satu semester kuliah. Ga berasa ya udah satu semester. Ah cepat sekali waktu ini berlalu~

Cheers

Kemmy

Kuliah di Luar Negeri: Satu Bulan Di Jerman – Gimana rasanya?

Hey you guys!

Seperti yang udah gue pernah bilang sebelumnya di post tentang 1 bulan di Jerman (click here), gue juga mau cerita tentang gimana rasanya pindahan kesini. Iya iyaa tau gue udah lama banget ga update, ya maap ga punya internet di kamar dorm hiks. Engga, engga, di dorm ada internet kok cuma gue aja yang sial jadi bermasalah hahaha. Nanti gue akan update kehidupan setelah 6 bulan di Jerman sekalian curhat ujian (semoga internet ga bermasalah yes)

Jadi rasanya gimana?

Nano nano.

Iya beneran sumpah nano nano. Macem-macem rasanya.

Kebetulan gue sampe sini tanggal 24 September dan kuliah gue officially mulai 14 October tapi kelasnya sendiri mulai 21 October. Jadi satu bulan pertama gue disini bisa dibilang lalala lilili aja gitu hahaha. Lalala lilili senangnya hati ini~

Tiga hari pertama gue ditemenin salah satu temen baik gue yang kebetulan udah tinggal di Jerman (FSJ dan kuliah S2 juga sekarang) dari tahun umm 2016 kalo ga salah? Jadi 3 hari pertama itu emang belom berasa kayak udah pindah atau kayak lo sendirian gitu. Mind you that I have never lived in some far away place from friends and family. Nah seminggu pertama itu gue udah book hotel (iya sok banget emang) buat gue dan temen gue itu karena waktu itu gue belom dapet tempat tinggal, walau sesudah gue book beberapa hari kemudian gue dapet email kalo gue dapet kamar di dorm. Bye, money.

Anywayyy, di tiga hari pertama itu temen gue bantu gue urus urus segala macem berkas dan daftar kuliah (post dokumen dokumen penting bisa kalian baca ya di link yang udah gue attach di atas). Teruuus pas temen gue pulang, berasa dong aing teh sendirian. Gitu. Gue emang waktu itu belom punya kenalan sama sekali di Kiel dan emang anaknya ga bisa SKSD gitu jadi mau kenalan sama orang di PPI malu malu bangsat gitu deh. Jadi seminggu pertama gue ngapain? Ya gitu, mencari kehangatan dan kasih sayang di Tinder WQWQWQ. Sumpah aku ga niat aneh-aneh cuma butuh temen ngobrol karena bingung mau ngapain. Yea right. Emang ga bakat main gituan (dan cepet bosen) akhirnya itu apps diapus install mulu wk. Eh ngawur kemana mana kan gue.

Gue sempet dateng ke acara pengajian PPI waktu seminggu pertama itu (dan sampe sekarang emang gue cuma pernah sekali dateng ke acara PPI ahahaha engga, bukan karena ga mau mingle, emang kebetulan tiap mereka ada acara gue lagi ga disitu gitu. Sumpah aku ga alibi alibian :3) terus gue….. cuma numpang makan wk. Abis gimana dong, niat gue baik kok mau kenalan ehe. Nah dari dateng ke acara ini gue dapet info kalo ada 5 mahasiswa S2 Indonesia baru di tahun ini Waw 5? Dikit amat. Oh tidak, itu katanya banyak sekali. Waw emejing. Yaaa seminggu pertama gue habiskan buat pindahan barang-barang ke dorm sama ngalor ngidul makan KFC pake kupon. Ya gimana di hotel ga ada dapur kan. Oh, iya. Sama gue bolak balik IKEA, ngapain? Selain belanja, gue juga norak aja gitu macem Ausflug machen di IKEA wkwkw.

Pas di seminggu pertama itu, gue liat ada yang chat di grup PPI Kiel nanyain tentang rumah gitu karena dia belom dapet. Ternyata doi baru mau mulai S2 juga waw senangnya hatiku nemu temen seperjuangan, gue beranikan diri dong buat chat. Nah gue tadinya mau ambil KTM bareng sama Hanif (nama bocahnya) pas hari Jumat (hari ke-5 gue) ternyata KTM dia belom kelar tapi gue udah, padahal kita daftar kuliah di hari yang sama. Akhirnya gue nemenin dia buat bikin Bankkonto buat transfer blocked account Fintibanya. Yaah, dunia emang sempit ternyata si Hanif ini temen deket dari temen deket gue pas SMA. Hanif sama temen SMA gue ternyata satu kampus, satu jurusan, satu kosan sama temen gue. Oke sip. Idup ku ga jauh jauh sama mutual friend nya temen. Apa sih.

Terus gue ketemuan lagi lah ceritanya sama Hanif pas kartunya dia udah jadi. Terus dia bilang dia mau ketemu juga sama orang Indonesia lain yang baru mau mulai S2 juga. Waw kehampaan tanpa teman ini akan segera berakhir, begitu pikirku. Nah, di Kiel ini bus 30 menit sekali, apes lah saya yang ketinggalan bus terus akhirnya jalan kaki. Untung udah tinggal di dorm jadi gue jalan cuma sekitar 20 – 30 menit ke kampus. Tapi ujan. Yaudahlah. Apalah Kiel tanpa ujan. Ketemu lah gue sama Hanif yang abis isi kartu mahasiswanya (buat jajan di Mensa/kantin kita bayar pake kartu) terus gue ketemu sama Arki juga yang lagi isi balance di kartunya. Abis itu kita makan di Mensa dan gue ketemu lagi sama Beta dan Manda. Waw aku bertemu semua 4 biji mahasiswa Indonesia yang telah diinfokan ini dalam satu hari. Waw. Aku punya teman sekarang.

Terus sisa sisa hari gue sampe kuliah dipake buat apa? Main WQWQWQ. Dan selalu di tempat Arki hahahah kenapa? Manda dan Hanif belom punya kamar permanen waktu itu, Hanif masih bolak balik Hamburg, Manda masih nyewa kamar sementara dan karena tinggal sama ibu ibu yang punya, jadi agak risih. Beta kamarnya kecil dan lumayan jauh. Gue? WQWQWQ ga punya internet.

Selain main sama orang-orang Indonesia, gue juga ketemu sama temen temen main gue sekarang yang nama gengnya The Herd, isinya ada orang Nigeria, Perancis, Jerman, Rusia, Ceko, Pakistan, Nepal, UK sama US. Awalnya cuma ketemu di acara kampus dari International Center, tentang kehidupan akademis di kampus Jerman gitu. Terus gue ketemu lah sama orang orang yang jurusannya sama kayak gue terus diajak ngopi terus mereka bawa temennya terus temennya mereka bawa temennya terus yaudah gitu aja terus sampe ngumpul banyak.

Katanya tadi nano nano, kok kayaknya cuma seneng seneng doang?

Sekarang sih udah haha hihi aja, tapi pas temen gue pulang ke Munich itu berasa banget macem ditampar baru sadar kalo gue sendirian. Sendirian~ Sendirian~ ga cuma itu, gue pun pernah dimarahin sama staff pemerintahan sana gara-gara gue ngomong pake bahasa inggris wkwkw katanya “lo tuh tinggal di Jerman, lo harus ngomong bahasa sini” mungkin dia kira gue ga ngerti sama sekali hahaha but he was right though. Ya kalo mau integrasi, paling gampang lewat bahasanya. Gue memang masih minder pake bahasa jerman abal abal gue ini dan gue ga berani make jerman di saat gue ngurus hal hal penting kayak ke kantor pemerintahan gini misalnya karena takut salah paham. Tapi ya itu gue jadiin pelajaran buat jangan minder, udahlah ngomong mah ngomong aja, udah belajar juga kan. Lagian mereka juga ngerti kok kalo kita bukan orang sini dan mereka juga menghargai kita yang mau usaha. Pas gue kesana lagi ngomong pake bahasa Jerman, orang yang sama itu jadi ramah ke gue wkwkwk. Aing sih ga masukin ke ati tapi ya emang pas awal dia ngomong gitu gue kaget juga.

Gak cuma masalah kayak gitu aja, tapi ada juga masalah interpersonal sama orang lain, masalah sama cuaca yang depressing sekali sampe mempengaruhi mood jadi suka bete atau bikin ngantuk terus males misalnya. Ga sih gue emang males wkwkwk. Masalah jarang jajan juga di luar soalnya harus hemat hemat, kalo lagi pengen makan di luar paling gue makan döner soalnya paling terjangkau wkwkw. Terus toko toko ga buka 24 jam dan tutup setiap Minggu. Yeaaa. Hari hibernasi! Tapi ya namanya idup di luar, harus menyesuaikan. Gue juga belajar lebih mandiri sama dewasa, seenggaknya sekarang gue bisa masak lebih banyak hahahha walau sifat bocah dan pemalas dan santai gue ga ilang juga sih sampe sekarang hahaha

Well, that’s that. My rant on my first month in Germany. Do I like it so far though? Yes. I don’t regret it, not even a little. One thing that I miss from home though, toko toko buka 24 jam.

Cheers,

Kemmy